Beranda > Novel > Fragmen Cerita Novel SABDA PALON

Fragmen Cerita Novel SABDA PALON

Fragmen Cerita Novel SABDA PALON

(Kisah Nusantara yang Disembunyikan)

Hiruk-pikuk kegiatan perniagaan kini berubah menjadi teriakan yang memperingatkan teman yang lain, bentakan agar segera melepas sauh, atau makian karena beberapa orang tak sengaja menghalangi tubuh mereka yang hendak berusaha menyelamatkan diri. Tubuh-tubuh itu berhamburan dari dermaga. Ada yang masih melompat turun dari jung. Ada yang tengah sibuk mengangkat sauh. Ada yang sudah berlari ke daratan. Suasana kacau-balau.

Disusul dari arah berlawanan, beberapa kuda dipacu kencang menuju pelabuhan. Tampak beberapa prajurit Kamboja datang untuk memastikan sendiri kabar yang telah diterima dari petugas pelabuhan. Ada sekitar sepuluh prajurit yang memacu kudanya mendekat ke dermaga. Dan begitu sudah sedemikian dekat dengan pantai, mereka memperhatikan dengan saksama ke arah selatan. Di tengah lautan tampak tujuh buah jung, satu berukuran besar dan enam berukuran sederhana, merapat ke Prey Nokor. Kini, tanpa memerlukan kaca pembesar berbentuk teropong, mata telanjang mereka sudah bisa melihat bendera bergambar surya berkibar di atas jung-jung itu. Ditambah dengan bentangan kain merah dan putih yang melambai-lambai ditiup angin barat, seluruh prajurit Kamboja sudah yakin, jung-jung yang hendak merapat ke pelabuhan itu tak lain adalah jung-jung tempur Majapahit.

Sang pemimpin pasukan tampak melirik ke beberapa titik tersembunyi. Titik di atas dahan-dahan pohon dan menara pengawas. Di sana, beberapa prajurit panah Kamboja sudah siap dengan busur dan anak panahnya. Posisi mereka sangat tersembunyi. Jika tidak awas, siapa pun tidak bakal tahu jika ada orang yang tengah berada di sana. Begitu sudah yakin dengan apa yang mereka lihat, segera mereka memutar arah kuda dan menggebrak kudanya masing-masing meninggalkan pelabuhan. Di tengah hiruk-pikuk mereka yang tengah menjauh dari bibir pantai, kuda-kuda mereka melesat bagai anak panah, berkejaran, susul-menyusul.

Sedangkan di sana, di tengah laut selatan Kamboja, tujuh buah jung tempur sudah semakin dekat. Kini, bentuk ketujuh jung itu sudah sangat jelas terlihat dari pantai. Bendera besar bergambar surya, dengan umbul-umbul merah dan putih, berkelebat-kelebat tertiup angin. Dalam jarah beberapa puluh tombak dari pantai, rupanya sauh sudah di turunkan. Layar sudah tergulung semua. Tujuh jung itu berhenti bergerak. Disusul kemudian, dari dek setiap jung, keluar perahu-perahu kecil yang memuat pasukan tempur Majapahit. Perahu-perahu itu segera didayung menuju pantai. Kini, tak ada pemandangan lain di tepi Pelabuhan Prey Nokor kecuali berpuluh-puluh perahu kecil, dengan prajurit siap tempur di atasnya, yang tengah bergerak susul-menyusul ke daratan.

Begitu tiba di pantai, masing-masing prajurit melompat ke darat, bergerak dengan sigap, bertumpu pada salah satu lutut, sedangkan perisai diposisikan melindungi bagian badan. Berjajar-jajar dan susul menyusul mereka melakukan hal itu. Kini, di bibir pantai Prey Nokor, terlihat berderet-deret pasukan Majapahit dengan perisai besi melindungi tubuhnya. Prajurit yang turun belakangan segera ikut bersembunyi di belakang badan temannya yang terlindung perisai. Prajurit yang tengah berlindung adalah prajurit pemanah. Begitu mereka sudah dalam posisi aman, satu-dua dari mereka segera melepaskan anak panahnya. Terdengar jerit kesakitan diiringi beberapa tubuh yang terjatuh dari atas pohon atau menara pengawas.

Rupanya, beberapa prajurit panah Kamboja yang sudah siap di tempat tersembunyi untuk membidikkan anak panahnya telah didahului oleh prajurit panah Majapahit. Ada tujuh prajurit panah Kamboja yang tersungkur ke tanah dengan anak panah menancap di tubuh atau kepalanya.

Merunduk!” Menyusul terdengar suara lantang dari pemimpin prajurit Majapahit. Beberapa prajurit panah yang baru melepaskan anak panahnya segera bertiarap di belakang prajurit yang membawa tameng. Anak-anak panah meluncur ke arah mereka. Dan semua anak panah itu mental, tertangkis oleh tameng-tameng yang dipasang dalam formasi tertentu.

Begitu desingan anak panah sudah reda, terdengar teriakan keras:

“Bidik!”

Kini, prajurit panah yang baru saja berlindung di belakang prajurit yang membawa tameng, dengan gerakan luar biasa cepat, segera memasang anak panah pada busurnya. Dan ganti prajurit panah Majapahit kini melepaskan anak panah mereka ke beberapa titik. Dan benar! Begitu anak panah meluncur ke beberapa arah, satu-dua tubuh jatuh tersungkur dari atas dengan anak panah menembus badan mereka.

Seluruh prajurit lantas menunggu. Suasana hening dan sepi. Tak tampak lagi prajurit panah yang tersisa. Begitu dirasa aman, seorang prajurit mengibarkan bendera merah. Melihat bendera merah dikibarkan, menyusul dari arah lautan, perahu-perahu yang mengangkut meriam dan manjanik mulai dikeluarkan. Susul-menyusul perahu itu didayung ke tepian sembari membawa bêdhil gêdhe dan alat pelempar api itu.

Arya Gajah Para dan Arya Banyak Lêmpur turun dari jung, menaiki perahu dan dilindungi beberapa prajurit yang membentuk formasi melingkar dengan tameng. Perahu yang dinaiki Arya Gajah Para lebih dahulu bergerak, disusul perahu yang dinaiki Arya Banyak Lêmpur. Kesatria-kesatria Majapahit sudah mulai menjejak daratan Kamboja.

Meriam dan manjanik sudah naik ke daratan, disusul kemudian Arya Gajah Para, lantas Arya Banyak Lêmpur. Seluruh prajurit yang semula berjajar, dengan tameng-tameng yang melindungi tubuh mereka, kini telah bergerak ke atas. Di dermaga, mereka membentuk barisan. Ada sekitar lima ratus prajurit yang naik ke daratan. Namun, baru saja mereka membentuk barisan, mendadak dari arah berlawanan terdengar suara berderap riuh-rendah. Seluruh prajurit Majapahit waspada!

“Ardhachandra wyuuha!” Arya Banyak Lêmpur yang memimpin dua ratus lima puluh prajurit segera berteriak lantang, memerintah dua ratus lima puluh prajurit Majapahit yang dipimpinnya untuk membentuk formasi perang ardhachandra wyuuha, yaitu formasi yang berbentuk melengkung bagaikan wujud rembulan sebelum purnama. Dengan sigap dan terlatih, seluruh prajurit Majapahit, di bawah pimpinan Arya Banyak Lêmpur, membentuk formasi tersebut. Beberapa orang berputar arah, posisi barisan terlihat melengkung dengan cekungan di tengah-tengah.

“Samapta!” Kembali Arya Banyak Lêmpur berteriak, dan bunyi lutut menapak tanah diiringi suara tameng-tameng menghentak serempak terdengar. Kini, dalam posisi ardhachandra wyuuha, pasukan Majapahit di bawah pimpinan Arya Banyak Lêmpur meletakkan tameng-tameng di depan tubuh mereka dan posisi mereka berjongkok dengan salah satu lutut menapak tanah. Di atas tameng, tombak-tombak terarah ke depan dengan mantap. Luar biasa gerakan mereka, serempak dan terlatih.

“Samapta!” Kini terdengar teriakan Arya Gajah Para, yang memimpin dua ratus prajurit yang sekarang posisinya ada di belakang prajurit Arya Banyak Lêmpur, yang terlebih dulu membentuk formasi ardhachandra wyuuha. Mendengar komando tersebut, dua ratus prajurit Arya Gajah Para segera menghunus pedangnya masing-masing. Bunyi besi terhunus terdengar bising. Kini, dengan tameng di depan tubuh dan pedang terhunus, dua ratus prajurit itu menunggu perintah selanjutnya.

Di belakang mereka ada lima puluh prajurit yang menjaga manjanik dan meriam. Mata prajurit Majapahit awas mengamati gerakan berderap dari arah depan. Telah terlihat, ratusan prajurit berkuda Kamboja tengah menyerbu mereka dengan pedang-pedang terhunus. Kuda-kuda mereka berlari kencang, berderap, meluncur menuju barisan prajurit Majapahit.

Prajurit Kamboja yang melaju sembari berteriak-teriak garang itu telah hampir sampai pada barisan prajurit Majapahit. Seluruh prajurit Majapahit tetap berada dalam posisi masing-masing. Mata mereka awas. Tangan mereka telah siap menggerakkan senjata. Tinggal menunggu aba-aba.

Begitu prajurit Kamboja telah semakin dekat, Arya Banyak Lêmpur berteriak:

“Hara, Hara, Hara Mahadewa!”

Barisan depan prajurit berkuda Kamboja menerjang barisan prajurit Majapahit. Dalam posisi ardhachandra wyuuha yang melengkung di tengah, pasukan Majapahit yang posisinya ada di tengah bergerak seolah minggir memberi jalan, namun dari sisi kiri dan kanan tombak-tombak prajurit Majapahit menukik menusuk lambung-lambung kuda prajurit Kamboja. Ringkikan kuda yang tertusuk tombak terdengar berselang-seling, disusul jerit kematian para penunggangnya yang terjatuh dan langsung disambut tombak-tombak tajam.

Sebentar saja, sudah berpuluh-puluh kuda terjerembap dan penunggangnya tewas tercacah tombak. Erangan kematian terdengar di mana-mana. Mereka yang bisa lolos dari jepitan pasukan tombak segera disambut tebasan pedang oleh prajurit Arya Gajah Para yang bersiap di belakang.

Bangkai kuda dan mayat prajurit Kamboja sebentar saja sudah tumpang-tindih di tanah, bermandikan darah segar. Ada yang bisa meloloskan diri, melompat dari punggung kuda, berguling di tanah, dan segera bangkit menyerang. Mereka yang selamat segera disambut oleh prajurit pedang Arya Gajah Para. Prajurit tombak terus melakukan gerakan mereka menusuk lambung, kaki, leher, dan paha dari kuda-kuda yang ditunggangi prajurit Kamboja yang terus datang menyerang. Yang tidak cepat melompat sudah pasti meregang nyawa terkena.

SABDA PALON

Pengarang: Damar Shashangka

Penyunting: Salahuddien Gz dan Dita Sylvana

Penyelaras Bahasa: Khrisna Pabichara

Pemindai Aksara: Muhammad Bagus SM

Penggambar Sampul: Yudi Irawan

Penata Letak: MT Nugroho

Penerbit: Dolphin (Kayla Pustaka)

  1. 19 Desember 2015 pukul 6:14 pm

    I do not even understand how I ended up right
    here, but I believed this put up used to be good.
    I don’t recognise who you are however certainly you’re going to
    a famous blogger in case you are not already. Cheers!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: